After Rain
“Kamu tahu apa yang akan terjadi setelah hujan berhenti?” itu adalah kalimat yang dahulu sering kali diucapkan oleh ibuku. Karena aku selalu mengeluh tentang hujan maka ibu sering kali menceritakan peristiwa setelah hujan itu berhenti. Awalnya aku hanya berpikir itu adalah cara ibu untuk membuat aku tenang. Tetapi aku sadar bahwa setelah hujan turun maka akan ada hal menarik yang terjadi.
Namaku Lisa, seorang mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta. Aku adalah tipe orang yang sebisa mungkin menghindari kontak dengan teman satu kampusku. Karena aku merasa kurang percaya diri dengan keadaan keuanganku. Aku bisa diterima di kampus yang terkenal akan kalangan orang kaya ini semata-mata karena aku berhasil mendapatkan beasiswa. Kalau aku tidak bisa mendapatkan beasiswa maka aku tidak akan bisa masuk di kampus ini.
Aku tinggal bersama ibuku seorang. Ayah sudah tidak ada lagi karena beliau sudah wafat. Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Tidak mempunyai saudara membuatku menjadi perempuan pendiam. Tapi aku bersyukur mempunyai beberapa teman yang baik. Walau mereka berasal dari kalangan ekonomi atas, mereka masih saja memperlakukan aku seperti biasa.
“hari ini kamu mau pulang sore atau malam?” suara ibu terdengar dari dapur.
“mmmm....hari ini pulang jam tujuh, soalnya ada kelas tambahan sama aku mau bantu jualan di toko Pak Andi.”
“ya sudah kalo begitu. Nanti ibu masak setelah jam enam saja. Biar masakannya masih panas.” Ibu tersenyum sambil menjawab. Berjalan dari dapur terlihat kedua tangannya sudah penuh oleh masakan.
“padahal sudah mandi sama sudah dandan. Masak ibu lepek sama keringat begini?”
Ibu bekerja di sebuah koperasi yang lokasinya lumayan berada jauh dari rumah. Setelah menyiapkan sarapan ibu akan melahap makanan dengan cepat lalu berangkat meninggalkan rumah. Rumah akan terasa sepi saat ibu sudah berangkat bekerja. Sementara aku akan berangkat kuliah dua jam kemudian.
“hujan lagi ya?” gumamku sambil melihat langit yang menjatuhkan butiran air.
Aku mengambil payung lalu berjalan menuju kampus. Sepanjang jalan aku melihat banyak orang berlarian. Mereka berlari menghindari hujan, tetapi beberapa orang terlihat santai karena mereka sudah siap dengan payungnya dan ada juga yang berjalan menggunakan jas hujan. Aku tersenyum melihat berbagai kejadian biasa yang terjadi saat ini, karena kalau dipikir lagi aku ini tidak pernah suka dengan hujan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Berjalan menembus hiruk pikuk kampus hal yang memberikan kesenangan tersendiri, walau aku tidak menyapa orang yang lewat sih. Hehe.
“Lisa, selamat pagi.” Beberapa suara terdengar menyapa dari belakang. Itu adalah teman-teman yang aku punya. Lalu dengan cepat aku balas dengan “selamat pagi” sambil tersenyum.
“kamu sudah bisa mengerjakan materi skripsimu?” tanya Santi.
“oh iya. Aku juga ke pikiran soal itu.” Timpal Rose.
“mmmm....sebetulnya sudah aku sudah dapat temanya sih. Cuman aku masih kekurangan buku buat menyusunnya.” Jawabku sambil memutar otak karena saat ini aku sudah buntu.
“kalo mau aku punya beberapa buku yang pas sama temamu lho.” Rose berkata sambil tersenyum.
“wah....kalo kamu mau aku juga punya lho.” Santi menimpali sambil berjalan ke arah mesin kopi.
“oke. Besok aku pinjam bukunya ya?”
Kami berjalan ke arah ruang kelas bersama. Hari ini kuliah berjalan seperti biasa. Setelah jam kuliah selesai aku bergegas menuju ke toko milik Pak Andi. Saat aku senggang seperti ini aku akan bekerja paruh waktu di toko ini.
“Lisa sudah kuliahnya sudah selesai?” tegur Pak Andi yang sedang merapikan bagian depan toko.
“iya sudah selesai.” Aku menjawab sambil tersenyum.
Ini adalah sebuah toko kopi yang lumayan ramai bahkan di hari biasa seperti ini. Aku pernah lewat toko ini saat malam minggu, saat aku melihatnya toko kopi ini ramai oleh pengunjung. Bukan hanya anak muda, bahkan ada bapak- bapak sampai ibu-ibu. Sungguh toko yang tidak pernah sepi pengunjung.
Aku berjalan masuk ke dalam toko. Ke bagian khusus pegawai. Setelah berganti seragam aku melihat jenis kopi apa yang akan dijual hari ini. Setelah melihat daftar aku mengambil kopi yang ada di gudang. Saat akan mengambil sebuah kotak aku malah terpeleset dan dengan sigap kuraih sebuah tumpukan kopi yang mana justru menambah parah keadaan. Aku tertimpa sebuah karung, yang langsung mengenai tanganku. Sesaat kemudian aku tersadar sudah ada di rumah sakit.
“Lisa, kamu sudah sadar? Kamu enggak apa-apa? Masih ada yang sakit?” sebuah suara terdengar dari sampingku. Saat aku menoleh aku melihat ibuku yang terlihat sangat khawatir. Sesaat kemudian ibu menekan tombol darurat untuk memberitahu perawat bahwa aku sudah sadar.
“Anda mengalami patah tulang, karena tertimpa karung kopi di tempat kerja Anda.” Begitulah yang di jelaskan oleh si perawat. Sesaat kemudian si perawat mengambil nafas lalu melanjutkan penjelasannya. “untuk sementara tangan Anda tidak akan bisa digunakan selama kurang lebih empat bulan.”
Mendengar penjelasan ini kepalaku mendadak berat. Bulan depan adalah batas waktu penyerahan skripsi. Dan tanganku masih belum bisa digunakan, bahkan untuk mengetik. “Terus aku harus bagaimana?” gumamku. Ibu terus mencoba untuk membuat aku tenang tapi tetap saja percuma.
Lima hari kemudian aku mendapat ijin untuk menjalani rawat jalan. Hal ini membuat aku tenang walau hanya sedikit. Hal yang cukup membebani pikiranku adalah fakta bahwa teman-temanku tidak ada yang menjenguk. Bahkan kedua sahabatku tidak ada yang menanyakan kabarku. Ibu sudah berangkat bekerja. Saat ini waktu menunjukkan pukul 12 siang. Langit terlihat mendung. Hujan yang sudah menggantung sudah siap untuk jatuh kapan pun ia mau. Mendadak suara ketukan di pintu memecah kesunyian ini. Aku berusaha mengabaikannya, tetapi suara ketukan terdengar semakin keras.
“siapa yang datang siang-siang begini ya?” gumamku sambil berjalan ke arah pintu depan. Saat aku membuka pintu aku melihat lima sosok yang aku kenal. Dua di antaranya adalah sahabatku.
“selamat siang Lisa?” sapa Santi
“gimana? Kamu sudah sembuh?” timpal Rose.
“kami bawa bahan skripsimu sama makanan lho.” Beberapa suara terdengar. Mereka adalah teman satu kampusku.
“anu...kalian ngapain bawa buku sama makanan sebanyak itu?” tanyaku sambil mempersilahkan mereka masuk.
“jadi kami mau membantu kamu. Biar skripsimu segera selesai.” Kata teman-temanku.
Aku hanya tertegun. Saat ini aku baru tahu alasan kenapa kedua sahabatku tidak sempat menjengukku. Ternyata mereka sedang mempersiapkan bahan yang aku perlukan untuk pembuatan skripsiku. Aku mengutuk diriku karena sudah berpikir buruk tentang mereka berdua. Bahkan teman satu kelas yang jarang bertegur sapa denganku pun mau membantu. Tanpa sadar aku menangis sambil tersenyum.
Pembuatan skripsiku berjalan dengan lancar. Aku membaca buku dan memilih kalimat yang akan kumasukkan sementara Rose dan Santi bergantian mengetik. Sisanya bergantian memilihkan buku dan memasak untuk makan siang, makan malam dan sarapan kami. Dua puluh jam kami bekerja bersama. Dan selesai sudah skripsiku.
Kami terlelap dalam lelah kami. “sudah siang lagi ya?” gumamku sambil melihat langit yang sedang meneteskan air hujan.
Yang terjadi setelah hujan adalah timbulnya pelangi. Aku mengalami sebuah insiden yang membuat tanganku patah. Tapi aku mendapat pengetahuan tentang betapa baiknya orang-orang yang ada di sekitarku. Saat ini aku tahu bahwa sesuatu yang akan berganti menjadi sesuatu yang indah sesudahnya.
Komentar
Posting Komentar