Di Dalam Hati

Namaku Doni, seorang karyawan biasa disebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan makanan kering. Posisi yang kumiliki sekarang adalah Salesman atau sales. Setiap hari aku berjalan keluar masuk dari satu pasar ke pasar lain untuk menawarkan dagangan dari kantor. Berbagai macam jenis makanan harus aku tawarkan setiap harinya. Saat ini adalah bulan puasa yang mana penjualan kami akan mengalami lonjakan yang sangat besar ketimbang bulan-bulan lainnya. Bahkan perbedaannya bisa mencapai 200 persen.

"Doni, tahun ini kamu mau pulang kampung?" Tanya salah satu pelangganku.

"Tahun ini saya belum kepikiran pulang kampung bu." Jawabku sambil aku berjalan ke pelanggan yang lain.

Pertanyaan tersebut masih saja terlontar dari beberapa orang yang berbeda. Bahkan saat sampai kantor pun pertanyaan itu masih saja terdengar.

"Kamu enak ya Don. Bisa pualng kampung buat njenguk orangtuamu. Aku juga sebenernya juga mau nengok orangtuaku tapi sayang tahun ini mereka pergi kerumah kakakku. Sayang sekali." Kata salah satu teman kantorku. Yang hanya kujawab dengan sebuah senyum tipis.

Hari ini berjalan seperti biasa. Saat sampai rumah aku langsung melanjutkan kebiasaan yang ada. Mandi, makan malam lalu mengecek sosial media. 

Aku melihat kalender yang ada didinding kamarku.

"Kurang satu minggu lagi lebaran ya?" Gumamku sambil menatap kosong kalender yang menempel di dinding kamar.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang begitu spesial yang terjadi. Kecuali berbagai pertanyaan yang sama yang sudah terlontar seperti hari kemarin.

"Eh Don. Kamu jadinya pulang kampung ya?" 

"Lah? Jadinya emang pulang kampung ya? Enaknya." Kata beberapa teman yang sedang mengobrol diseberang meja.

"Ya memang sih aku pengen pulang kampung cuman kok aku agak malas ya?" Jawabku santai

"Idih. Kamu sih enak masih ada orang tua dikampung. Lha kita. Orangtua kita malah pada pergi kerumah saudara yang lain." Akhirnya satu ruangan sibuk membicarakan tentang betapa menyedihkan lebaran yang akan mereka jalani tahun ini.

Saat sampai rumah aku melihat ada sebuah pesan masuk dari kakakku.

"Kamu tahun ini pulang ya? Kita jenguk papah sama mamah bareng-bareng sama adik juga." 

"Oh. Ternyata tahun ini pada kompak mau jenguk papa sama mama ya?" Gumamku setelah membaca pesan dari kakakku.

Aku membuka website kereta api lalu memesan sebuah tiket untuk mudik tahun ini. Untung masih ada tiketnya.

Satu hari sebelum hari libur dikantor selalu diadakan buka bersama sebagai bentuk doa dan syukur karena tahun ini masih bisa melewati bulan puasa bersama.

"Jadi kamu sudah pesen tiket kereta api ya Don?"

"Iya. Untung kemarin masih ada tiketnya."

"Wah. Aku kurang beruntung. Kemarin mau beli sudah kehabisan."

Kami membahas topik tentang perjalanan mudik tahun ini. Dan beberapa hal lain. 

"Salam buat orangtua dikampung ya Don." Beberapa teman memberi salam kepadaku.

Hari ini aku berangkat dari kota pagi-pagi sekali. Sepanjang perjalanan aku mengobrol dengan kedua saudaraku lewat pesan singkat dan melakukan video call. Hari sudah malam saat aku tiba dikampung. Suasana tenang langsung menyergap begitu aku tiba dirumah orangtuaku.

"Tadi aman kan perjalanannya?" Tanya kakakku yang sudah sampai terlebih dahulu.

"Ya begitulah." Jawabku singkat. "Adik mana?" Tanyaku karena daritadi belum melihatnya.

"Oh dia lagi beli makan malam di gang belakang rumah."

Malam itu kami ber enam makan bersama. Aku, kakakku beserta istri dan anaknya, juga adik beserta istrinya juga duduk bersama di atas satu meja bersama.

Keesokan harinya setelah kami sarapan, kami berjalan bersama.kearah kampung sebelah. Banyak tetangga yang menyapa kami sekaligus mengucapkan selamat lebaran kepada kami.

"Kamu beli bunganya enggak kebanyakan tuh?" Tanya adikku dari belakang.

"Enggak. Segini cukup kok." Jawabku sambil terus berjalan.

"Habis ini belok kanan lho." Kata kakakku, yang hanya kami jawab dengan anggukan.

Kami memasuki sebuah tempat dimana banyak orang yang berziarah kepada keluarga mereka yang sudah tiada. Ya. Kami memasuki lingkungan pemakaman umum. Kami berjalan kearah tengah area pemakaman ini. Dua buah pusara yang berjejer apik. Ini adalah makam dari papa dan mamaku.

Kami berdoa sejenak lalu menaburkan bunga yang kami bawa.

"Pa, ma. Temen kantor banyak yang titip salam lho buat papa sama mama." Kataku sambil bergetar.

Orang tuaku memang sudah tiada. Tapi mereka masih hidup didalam relung hati kami yang terdalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

After Rain

Teman??