The Best
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kalimat yang sering kali dikatakan oleh kedua orang tuaku. Walau sering kali aku mengabaikannya. Namun kalimat ini malah menjadi senjata terkuat yang saat ini kumiliki.
Halo namaku Dita. Seorang karyawan disebuah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan makanan ringan. Sebagai salah satu karyawan yang cukup lama bekerja disini aku memiliki posisi yang lumayan tinggi. Yang mana hal ini justru memberi dampak negatif dalam kehidupan asmaraku.
Banyak dari laki-laki dikantor yang tidak berani mendekatiku karena mereka merasa rendah diri akan posisi mereka. Namun dalam pikiranku hal itu bukanlah masalah, namun bagaimana lagi kalau hal itu memang yang mereka rasakan?
Ada seorang laki-laki yang cukup menarik perhatianku. Dia berada di bagian lain dalam perusahaan. Namun karena departemen dia bekerja sering kali harus bekerja sama dengan departemenku, maka kami bisa bertemu. Dalam pandanganku dia adalah laki-laki yang cukup ideal untukku. Namun tetap saja aku tidak bisa begitu saja memperlihatkan perasaanku kepadanya.
“Dita, kalau aku perhatikan kamu sering banget melihat Kevin untuk waktu yang lama ya?” tegur salah satu temanku.
“hah? Enggak kok. Aku cuman lagi mikirin hal lain aja.” Aku pun berkilah.
“ya sudah. Cuman kamu kudu hati-hati dalam milih laki-laki lho. Mereka kadang kelihatan baik tapi tetap saja aslinya enggak sebaik itu.” (Sandra)
“ummm...oke. makasih buat nasehatnya ya San.” (Dita)
Keesokan harinya sekali lagi aku bisa melihat Kevin karena kami mengadakan rapat dadakan.
“jadi begitu saja untuk hari ini. Semoga kedepannya masalah seperti ini dapat ditangani dengan lebih baik lagi.” (Kevin)
Kami pun selesai mengadakan rapat. Aku berjalan bersama Sandra dan menuju kearah ruangan kami saat sebuah suara memanggil.
“Dita, Sandra.” (Kevin)
“Eh iya. Ada apa?” (Sandra)
“kalian ada waktu enggak? Gimana kalo kalo kita makan siang bareng?” (Kevin)
“ngggg. Boleh kok.” (Sandra)
Sementara aku hanya diam saat mereka berdua berbicara. Lalu kami memasuki ruangan kami saat tiba-tiba suara tumpukan kertas dibanting ke meja.
“Nah. Aku paling enggak suka sama laki-laki yang malu-malu kayak gitu. Ngajak makan bareng kita berdua. Pasti ada maksudnya. Jujur aja pasti dia suka sama salah satu diantara kita.” (Sandra)
“ih kayaknya enggak kayak gitu juga deh.” (Dita)
“Ya udah gini aja. Sekarang aku tanya. Kamu suka sama Kevin?” (Sandra)
Aku hanya diam dan tak bisa menjawabnya. Sandra lalu duduk dengan tenag di mejanya. Sambil melihat keluar aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Keheningan yang mendadak ini membuat suasana terasa berat. Namu aku juga tidak mencoba membuat suasana berubah. Tanpa disadari jam istirahat siang pun tiba.
“Sekarang kita lihat sebenarnya dia maj apa?” (Sandra)
“iya” jawabku singkat.
Ternyata seperti dugaan Sandra bahwa Kevin memang suka dengan salah satu diantara kami. Namun sayangnya dia lebih memilih Sandra ketimbang aku. Rasanya saat ini aku ingin lari dari tempat ini. Perasaan tidak nyaman menyergapku dengan cepat. Bahkan dalam perjalanan pulang pun akj masih tidak habis pikir dengan kejadian tadi siang.
“Dit. Kamu kenapa pasang muka kauak gitu?” (Mamah)
“enggak. Dita enggak apa-apa” (Dita)
Apa iya ekspresiku kelihatan banget ya? Entahlah, aku juga enggak mau mikirin kayak gimana mukaku sekarang. Sambil melihat langit-langit kamar aku hanya bisa termenung.
“kamu yakin baik-baik aja?” (mamah)
Mamahku sudah masuk kedalam kamarku dengan mendadak. Sambil berjalan kearahku dengan langkahnya yang santai seperti biasa.
“enggak....cuman aku suka sama laki-laki ywng ada dikantor.” (Dita)
“Wah ya bagus dong. Akhirnya anak Mamah bisa ngerasain jatuh cinta.” (Mamah)
“Tapi sayangnya dia suka sama Sandra.” (Dita)
Aku menjawab Mamahku dengan nada ketus. Namun Mamah hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.
“Mamah memang enggak bakal bisa membantu kalau itu tentang urusan cinta. Tapi Mamah masih bisa ngasih kamu saran.” (Mamah)
“emang saran apa?” (Dita)
“kalo kamu emang enggak enggak berjodoh sama orang yang kamu suka itu, kamu enggak bakal bisa dapetin dia. Lagian walau kamu jatuh dalam sesuatu, kamu masih bisa berdiri lagi kok. Karena kegagalan yang kamu alami bukan akhir segalanya. Kamu masih bisa berdiri lagi dan lagi.” (Mamah)
Kata-kata dari Mamahku ini masuk dalam pikiranku dan membuat aku merenung. Satu minggu kemudian aku mendengar bahwa Sandra resmi berpacaran dengan Kevin. Dan aku memendam perasaan kecewa ini jauh dalam hatiku. Lagian aku tidak bisa menyalahkan Sandra karena dari awal aku tidak jujur padanya.
Frustasi yang berlebih ini kulampiaskan dengan cara olahraga pagi setiap hari agar pikiranku menjadi lebih tenang. Itu yang kupikirkan. Sialnya hari ini saat aku melakukan rutinitas lari pagi, Hp yang aku bawa malah jatuh diatas aspal dan membuat layarnya mati.
“Astaga. Kenapa malah bikin tambah emosi ya?” gumamku
Sesampainya dikantor aku banyak mendapat teguran karena beberapa orang mencoba menghubungi namun tidak ada jawaban. Ya iyalah orang Hp ku rusak. Namun aku hanya bisa meneriakkan hal ini didalam kepala saja.
“San. Kamu tau tempat servis Hp yang cepet?” (Dita)
“Di Mall A kayaknya ada.” (Sandra)
Lalu Sandra memberikan arahan letak dan nama dari servis Hp tersebut.
Saat jam istirahat aku langsung menuju ke tempat servis tersebut.
“Kalo sore ini bisa selesai enggak ya mas?” (Dita)
“Kami usahakan ya Mbak. Karena kebetulan kami sedang mempunyai antrian yang menumpuk.” (Pegawai servis)
“Ya udah deh nanti sore saya kesini lagi.” (Dita)
Dan saat aku kembali pada sore hari Hp ku sudah dalam keadaan normal kembali. Dan hal ini membuat aku bahagia.
“Maaf. Mbak dulu pernah sekolah di SMA B ya?” (????)
“Em...iya...kok Masnya bisa tahu?” (Dita)
“Ah...kamu Dita ya? Ini aku Choki.” (Choki)
“Lah. Astaga Choki. Udah lama enggak ketemu. Kamu apa kabar? Sekarang kerja disini ya?” (Dita)
“Kabar baik sih. Dan aku yang punya tempat ini. Hehe. Tadi sekilas aku lihat kamu pas masukin Hp ini. Cuman kupikir orangnya mirip aja. Eh ternyata emang kamu.” (Choki)
“Wah...keren ya sekarang kamu punya tempat servis Hp gini. Kayaknya hobimu yang suka utak-atik elektronik emang enggak berubah ya?” (Dita)
“Yah dari dulu orang tuaku emang lebih suka kalo aku ngerjain hobi yang sekalian bisa menghasilkan. Eh, ngomong-ngomong aku boleh minta nomor Hp mu? (Choki)
“Anda lupa ya? Kan aku udah daftarin nomorku disini buat pemberitahuan kalau Hp ku udah jadi.” (Dita)
Choki hanya membalas dengan tersenyum. Lalu aku beranjak dari Mall dan menuju kerumah. Sesampainya dirumah Hp ku mengeluarkan bunyi tanda pemberitahuan. Choki mengirim pesan lewat Whatsapp. Kami membicarakan tentang banyak hal yang terjadi setelah kami lulus dari SMA.
Pembicaraan kami sering terjadi walau sebatas Chatting saja. Namun hal ini sudah cukup membuat aku melupakan tentang rasa patah hatiku kepada Kevin. Dan satu hal yang tidak kuduga adalah aku menaruh rasa suka kepada Choki. Yah, walau hal ini hanya kusimpat rapat dalam hatiku.
Beberapa minggu kemudian seperti mimpi yang menjadi kenyataan, Choki mengungkapkan bahwa dia juga menaruh rasa kepadaku. Hubjngan kami pun berjalan dengan lambat namun pasti. Walau sering berbeda pendapat namun kami berhasil melewatinya.
“Kamu mau nikah sama aku.” (Choki) yang memperlihatkan tampang polosnya.
“Hah? Kamu bercanda?” (Dita)
“Enggak. Aku enggak lagi bercanda. Ya kupikir kita sudah sama-sama memasuki usia yang pas untuk menikah. Dan aku juga sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi kita berdua.” (Choki)
Aku kehabisan kata-kata. Namun saat ini hatiku terasa ringan. Entah kenapa saat ajakan ini terlontar darinya aku sama sekali tidak merasakan keraguan.
“Kalau kamu memang mau serius besok lusa kamu harus nemuin orang tuaku.” (Dita)
Choki mengiyakan permintaanku. Kami pun resmi menikah setahun kemudian.
Beberapa tahun kemudian kami memiliki anak kedua yang cantik. Hdiupku terasa sempurna. Namun ini berbanding terbalik dengan hubungan Sandra dan Kevin. Mereka berdua mengalami keadaan yang cukup tidak menyenangkan. Bahkan setelah lama berpacaran mereka malah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Aku berfikir dengan keras. Bagaimana kalau aku yang dahulu memutuskan untuk tetap terikat dengan rasa cinta ini? Mungkin aku tidak akan memiliki kehidupan rumah tangga yang baik seperti ini.
Ya, aku pernah jatuh dalam hal percintaan. Tapi saat ini aku bersyukur karena tidak terlalu lama duduk dalam lingkaran putus asa ini.....
Aku tersenyum sambil meletakkan anak yang baru lahir ini. Berjalan dengan perlahan aku meninggalkan kamar anakku yang masih berusia tiga bulan. Aku berjalan keluar dan mematikan lampu kamar ini.
Komentar
Posting Komentar